Minggu, 17 November 2013

Gara-gara Kesalahan Nabi Adam As?

Ingat Allah, Rasulullah dan Waliyullah

Sebelum Gus Dur wafat, Beliau pernah berdialog dengan salah seorang santrinya, berikut isi dialog tersebut..
Santri : "Ini semua gara-gara Nabi Adam, ya Gus!"
Gus Dur : "Loh, kok tiba-tiba menyalahkan Nabi Adam, kenapa Kang."
Santri : "Lah iya, Gus. Gara-gara Nabi Adam dulu makan buah terlarang, kita sekarang merana. Kalau Nabi Adam dulu enggak tergoda Iblis kan kita anak cucunya ini tetap di surga. Enggak kayak sekarang, sudah tinggal di bumi, eh ditakdirkan hidup di Negara terkorup, sudah begitu jadi orang miskin pula. Emang seenak apa sih rasanya buah itu, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak tahu lah, saya kan juga belum pernah nyicip. Tapi ini sih bukan soal rasa. Ini soal khasiatnya."
Santri : "Kayak obat kuat aja pake khasiat segala. Emang Iblis bilang khasiatnya apa sih, Gus? Kok Nabi Adam bisa sampai tergoda?"
Gus Dur : "Iblis bilang, kalau makan buah itu katanya bisa menjadikan Nabi Adam abadi."
Santri : "Anti-aging gitu, Gus?"
Gus Dur : "Iya. Pokoknya kekal."
Santri : "Terus Nabi Adam percaya, Gus? Sayang, iblis kok dipercaya."
Gus Dur : "Lho, Iblis itu kan seniornya Nabi Adam."
Santri : "Maksudnya senior apa, Gus?"
Gusdur : "Iblis kan lebih dulu tinggal di surga dari pada Nabi Adam dan Siti Hawa."
Santri : "Iblis tinggal di surga? Masak sih, Gus?"
Gus Dur : "Iblis itu dulu nya juga penghuni surga, terus di usir, lantas untuk menggoda Nabi Adam, iblis menyelundup naik ke surga lagi dengan berserupa ular dan mengelabui merak sang burung surga, jadi iblis bisa membisik dan menggoda Nabi Adam."
Santri : "Oh iya, ya. Tapi, walau pun Iblis yang bisikin, tetap saja Nabi Adam yang salah. Gara- garanya, aku jadi miskin kayak gini."
Gus Dur : "Kamu salah lagi, Kang. Manusia itu tidak diciptakan untuk menjadi penduduk surga. Baca surat Al-Baqarah : 30. Sejak awal sebelum Nabi Adam lahir… eh, sebelum Nabi Adam diciptakan, Tuhan sudah berfirman ke para malaikat kalo Dia mau menciptakan manusia yang menjadi khalifah (wakil Tuhan) di bumi."
Santri : "Lah, tapi kan Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di surga?"
Gus Dur : "Iya, sempat, tapi itu cuma transit. Makan buah terlarang atau tidak, cepat atau lambat, Nabi Adam pasti juga akan diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugas dari-Nya, yaitu memakmurkan bumi. Di surga itu masa persiapan, penggemblengan. Di sana Tuhan mengajari Nabi Adam bahasa, kasih tahu semua nama benda. (lihat Al- Baqarah : 31).
Santri : "Jadi di surga itu cuma sekolah gitu, Gus?"
Gus Dur : "Kurang lebihnya seperti itu. Waktu di surga, Nabi Adam justru belum jadi khalifah. Jadi khalifah itu baru setelah beliau turun ke bumi."
Santri : "Aneh."
Gus Dur : "Kok aneh? Apanya yang aneh?"
Santri : "Ya aneh, menyandang tugas wakil Tuhan kok setelah Nabi Adam gagal, setelah tidak lulus ujian, termakan godaan Iblis? Pendosa kok jadi wakil Tuhan."
Gus Dur : "Lho, justru itu intinya. Kemuliaan manusia itu tidak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau tidak. Yang penting itu bukan melakukan kesalahan atau tidak melakukannya. Tapi bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang kita lakukan. Manusia itu pasti pernah keliru dan salah, Tuhan tahu itu. Tapi meski demikian nyatanya Allah memilih Nabi Adam, bukan malaikat."
Santri : "Jadi, tidak apa-apa kita bikin kesalahan, gitu ya, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak seperti itu juga. Kita tidak bisa minta orang untuk tidak melakukan kesalahan. Kita cuma bisa minta mereka untuk berusaha tidak melakukan kesalahan. Namanya usaha, kadang berhasil, kadang enggak."
Santri : "Lalu Nabi Adam berhasil atau tidak, Gus?"
Gus Dur : "Dua-duanya."
Santri : "Kok dua-duanya?"
Gus Dur : "Nabi Adam dan Siti Hawa melanggar aturan, itu artinya gagal. Tapi mereka berdua kemudian menyesal dan minta ampun. Penyesalan dan mau mengakui kesalahan, serta menerima konsekuensinya (dilempar dari surga), adalah keberhasilan."
Santri : "Ya kalo cuma gitu semua orang bisa. Sesal kemudian tidak berguna, Gus."
Gus Dur : "Siapa bilang? Tentu saja berguna dong. Karena menyesal, Nabi Adam dan Siti Hawa dapat pertobatan dari Tuhan dan dijadikan khalifah (lihat Al-Baqarah: 37). Bandingkan dengan Iblis, meski sama-sama diusir dari surga, tapi karena tidak tobat, dia terkutuk sampe hari kiamat."
Santri : "Ooh..."
Gus Dur : "Jadi intinya begitu lah. Melakukan kesalahan itu manusiawi. Yang tidak manusiawi, ya yang iblisi itu kalau sudah salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya justru malah merasa bener sendiri, sehingga menjadi sombong."
Santri : "Jadi kesalahan terbesar Iblis itu apa, Gus? Tidak mengakui Tuhan?"
Gus Dur : "Iblis bukan atheis, dia justru monotheis. Percaya Tuhan yang satu."
Santri : "Masa sih, Gus?"
Gus Dur : "Lho, kan dia pernah ketemu Tuhan, pernah dialog segala kok."
Santri : "Terus, kesalahan terbesar dia apa?"
Gus Dur : "Sombong, menyepelekan orang lain dan memonopoli kebenaran."
Santri : "Wah, persis cucunya Nabi Adam juga tuh."
Gus Dur : "Siapa? Ente?
Santri : "Bukan. Cucu Nabi Adam yang lain, Gus. Mereka mengaku yang paling bener, paling sunnah, paling ahli surga. Kalo ada orang lain berbeda pendapat akan mereka serang. Mereka tuduh kafir, ahli bid'ah, ahli neraka. Orang lain disepelekan. Mereka mau orang lain menghormati mereka, tapi mereka tidak mau menghormati orang lain. Kalau sudah marah nih, Gus. Orang-orang ditonjokin, barang-barang orang lain dirusak, mencuri kitab kitab para ulama. Setelah itu mereka bilang kalau mereka pejuang kebenaran. Bahkan ada yang sampe ngebom segala loh."
Gus Dur : "Wah, persis Iblis tuh."
Santri : "Tapi mereka siap mati, Gus. Karena kalo mereka mati nanti masuk surga katanya."
Gus Dur : "Siap mati, tapi tidak siap hidup."
Santri : "Bedanya apa, Gus?"
Gus Dur : "Orang yang tidak siap hidup itu berarti tidak siap menjalankan agama."
Santri : "Lho, kok begitu?"
Gus Dur : "Nabi Adam dikasih agama oleh Tuhan kan waktu diturunkan ke bumi (lihat Al- Baqarah: 37). Bukan waktu di surga."
Santri : "Jadi, artinya, agama itu untuk bekal hidup, bukan bekal mati?"
Gus Dur : "Pinter kamu, Kang!"
Santri : "Santrinya siapa dulu dong? Gus Dur."
»»  JAPAR [Baca Selanjutnya...]

Masuk Surga karena Sabar dan Ikhlas

Alkisah, as-Sayyid al-Quthb Syaikh Ahmad al-Badawiy mempunyai istri yang berakhlak buruk sekali. Selalu mencerca dan menghina sang syaikh. Tetap berpuluh-puluh tahun Syaikh al-Badawiy sabar dan ridha dengan perilaku istrinya ini.
Tetapi tidak demikian dengan para murid beliau. Mereka sudah tidak betah menyaksikan gurunya yang selalu direndahkan begitu rupa. Mereka berpikir: “Jangan-jangan syaikh tidak menceraikannya karena syaikh tidak mempunyai uang sebagai ganti maharnya?”
Maka para murid bersepakat untuk patungan, mengumpulkan sejumlah uang dan diserahkan kepada syaikh agar syaikh tidak lagi memikirkan biaya mahar istrinya dan segera menceraikannya.
Tetapi Syaikh as-Sayyid al-Badawiy menolak seraya berkata: “Wahai murid-muridku. Aku tidak menceraikan dia bukan karena tidak mampu membayar maharnya. Tetapi, mengapa aku harus menceraikan seseorang yang karena sabarku atas dia membuatku mendapat derajat yang tinggi di hadirat Allah?”
Dalam kisah yang lain, ada seorang murid thariqat yang sering bermimpi bertemu gurunya (Syaikh Ahmad ar-Rifa’i) duduk-duduk di Surga.
Suatu ketika (bukan dalam mimpi) si murid tersebut bermaksud menghadap gurunya, namun didapati gurunya sedang dipukuli oleh istrinya hingga memar kehitam-hitaman dan bajunya sobek. Maka murid tersebut terkejut dan keluar tidak jadi menghadap.
Setelah mencari informasi, diketahui bahwa apa yang dialami gurunya karena beliau belum membayar mahar sebesar 500 dinar. Kemudian si murid tadi pulang mengambil uang 500 dinar untuk diserahkan pada gurunya tersebut.
Setelah uang tersebut hendak diserahkan, sang guru bertanya: “Untuk apa uang ini?”
Si murid menjawab: “Untuk mahar yang belum terbayarkan.”
Kemudian Syaikh Ahmad ar-Rifa’i tersenyum seraya berkata dengan santai: “Andai saja aku tak bersabar, dipukul, diolok-olok oleh istriku, maka kamu tak akan melihat aku duduk-duduk di Surga.”
Dan masih banyak kisah yang lainnya yang serupa dengan kedua kisah di atas, seperti yang pernah dialami oleh Amirul Mukminin Sayyidina Umar bin Khattab dan tokoh sufi Abu Laits as-Samarkandi. Betapa mereka dengan sabar menghadapi perlakuan buruk para istrinya,yang dengan kesabaran itu justru semakin menaikkan derajat merekaa di sisi Allah Swt.
»»  JAPAR [Baca Selanjutnya...]

Mengapa Ziarah ke Makam Wali

Ada yang pertanyaan sebagai berikut:
“Kenapa kita ziarah ke makam para Wali Allah’? Sedangkan mereka (Para Wali) tidak dapat memberi kuasa apa-apa dan tempat meminta hanya pada Allah...!”
As-Sayyid Asy-Syekh Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz al- Hadromi al-Yamani menjawab:
“Benar wahai saudaraku,…..aku juga berpendapat sama sepertimu, bahwa mereka (Para Waliyullah) tidak mempunyai kekuasaan apa-apa. Akan tetapi ada sedikit perbedaan antara aku dengan dirimu, yaitu aku senang menziarahi mereka, karena bagiku mereka (Para Waliyullah) tetap hidup dalam diriku dan membangkitkan semangat/jiwa yang mati ini menjadi mencintai Allah SWT.”
Tapi aku juga heran,….: ”Mengapa engkau tidak melarang aku untuk menziarahi para Ahli Dunia, mereka juga tidak mempunyai kekuasaan apa-apa. Malah mematikan akan hatiku kepada mencintai Allah SWT. Hidupnya mereka bagiku seperti mayat yang berjalan. Kediaman mereka adalah pusara yang tiada membangkitkan jiwa pada cinta Tuhan.
Kematian dan kehidupan di sisi Allah adalah jiwa. Banyak mereka yang dilihat hidup tapi sebenarnya mati, banyak mereka yang dilihat mati tapi sebenarnya hidup, banyak yang menziarahi pusara terdiri dari orang yang mati sedangkan dalam pusara itulah orang yang hidup.
Aku lebih senang menziarahi makam kekasih Allah (Waliyullah) dan para Syuhada walaupun hanya pusara, tetapi ia mengingatkan aku akan kematian. Kerena ia mengingatkan aku bahwa hidup adalah perjuangan. Karena aku dapat melihat jiwa mereka ada kekuasaan cinta kepada Allah SWT yang hebat, sehingga mereka dicintai oleh Allah lantaran kebenarannya cinta.
Wahai saudaraku berziarahlah ke makam – makam Para Wali Allah, karena pada makam merekalah ada kecintaan kepada Allah. Karena kecintaan Allah pada merekalah, sehingga seluruh tempat tinggal mereka dan yang mencintai mereka dicintai Allah.
Cinta tiada mengalami kematian, ia tetap hidup dan terus hidup dan akan melimpah kepada para pencintanya. Aku berziarah karena sebuah cinta mengambil semangat mereka agar aku dapat mengikuti mereka dalam mujahadahku, mengangkat tanganku (berdo’a) di sisi makam mereka bukan meminta kuasa dari mereka, akan tetapi memohon kepada Allah agar aku juga dicintai Allah sebagaimana mereka dicintai Allah.” Wallahu A’lam Bi showwab
»»  JAPAR [Baca Selanjutnya...]

Rabu, 23 Oktober 2013

Mantan Politikus Anti-Islam Nikmati Pengalaman Berhaji


REPUBLIKA.CO.ID, MADINAH--Mantan politikus anti-Islam, Arnoud Van Doorn memeluk Islam begitu menikmati pengalaman pertamanya melaksanakan ibadah haji. Di tanah suci, Van Doorn merasakan kedamaian dan ketenangan.

"Aku mendapati diriku di antara hati yang setiap. Saya berharap air mata penyesalan ini akan mencuci segala dosa yang saya buat," kata dia kepada Saudi Gazzete, Jumat (18/10).

Doorn, mantan anggota Partai Kebebasan sayap kanan ( PVV ) belum lama menjadi mualaf. Putusan ini muncul setelah cukup lama mempelajari Islam selama berkampanye anti-Islam dan memproduksi film berjudul Fitna.

Doorn mengatakan sejak kedatangannya di tanah suci , ia telah menjalani hari terbaik dalam hidupnya . Ia berharap bisa menghabiskan waktu lebih banyak di Madinah. Ia pun berencana kembali ke Madinah setelah prosesi haji selesai.

"Saya merasa malu berdiri di depan makam Nabi Saw. Saya memikirkan kesalahan besar. Semoga Allah memaafkan saya," kata dia.

Kunjungannya ke tanah suci Makkah dan Madinah bukanlah yang pertama . Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, politisi Belanda menuju kota suci Makkah guna menunaikan umrah usai bertemu dua imam Masjid Nabawi , Sheikh Ali Al - Hudaifi dan Sheikh Salah Al - Badar.

»»  JAPAR [Baca Selanjutnya...]

Selasa, 10 September 2013

Pangeran Kaloran, Tiga Kali Mati dan Hidup Lagi

SEPERTI halnya Mbah Sholeh Ngampel (pengikutnya Sunan Ampel) yang sembilan kali meninggal dunia dan sembilan kali hidup lagi, di Demak juga  terdapat orang alim yang demikian. Adalah Pangeran Kaloran atau yang memiliki nama asli Teguh Budi Santoso Lakum Dinukum Waliyadin. Dia tiga kali meningal dunia dan dikebumikan di pemakaman belakang masjid Agung Demak, dan tiga kali hidup lagi.
Namanya memang unik, ada nama dengan bahasa Jawa dan ada nama Arab yang merupakan ayat terakhir dari surat Al-Kafirun; Lakum Dinukum Waliyadin (Bagimu agamamu dan Bagiku Agamaku). Kiai Teguh atau Pangeran Kaloran hidup pada Masa Kerajaan Islam Bintoro Demak. Dia menjadi Kiai Setaman, atau kiainya keraton.
Kini makam Pangeran Kaloran berada di belakang Masjid Agung Demak. Terdapat tiga batu nisan yang berjajar, dan tertulis Pangeran Kaloran I, Pangeran Kaloran II dan Pangeran Kaloran III. Ketiganya merupakan kuburan Pangeran Kaloran yang memang tiga kali meninggal dunia.
»»  JAPAR [Baca Selanjutnya...]

Senin, 01 Juli 2013

Bacaan Istighotsah Pecinta Wali


الإستغاثة
(ISTIGHOTSAH)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
إِلى حَضَرَةِ سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا رَسُوْلِ الله مُحَمَّدٍ بن عبدالله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَكَذَلِكَ مِنْ عَبْدِكَ الْفَقِيْرِ إِلَى فَضْلِكَ وَمَغْفِرَتِكَ وَحِفْظِكَ أَحْمَدْ بِنْ عَبْدُ الرَّحْمَنِ اَلْعَبْدَرِي وَسَيِّدِ الشَّيْخِ عَبْدِ الرَّحْمَن بِنْ اَحْمَدْ بَدَوِى وَسَيِّدِ الشَّيْخِ مُصْلِحْ بِنْ عَبْدِ الرَّحْمَنْ اَلْمَرَاقِى وَسَيِّدِ الشَّيْخِ عَبْدِ الْكَرِيمْ بَانْتَنِ وَسَيِّدِ الشَّيْخِ أَحْمَدْ خَطِيْبِ شَمْبَاسْ إِلَى صُلْطَانِ اْلأَوْلِيَاءِ الشَّيْخِ عَبْدُ الْقَادِرِ الْجِيْلاَنِى رَضِيَ الله عَنْهُ وَإِلَى شَيْخِ الطَّائِفَةِ الصُّوفِيَهِ أَبِى الْقَاسِمْ جُنَيْدِ الْبَغْدَادِى وَإِلَى اْلإِمَامِ جَعْفَرِ الصَّادِقْ وَإِلَى أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ سَيِّدِنَا عَلِى بِنْ أَبِى طَالِبِ كَرَّمَ الله وَجْهَهْ (اَللَّهُمَّ شَفِّعْهُمْ فِيْنَا فِى الدَّارَيْنِ بِجَاهِهِمْ عِنْدَكَ x 3) وَقَدِسْ أَرْوَاحَهُمُ الْعَزِيْزَةَ آمِيْن، ثُمَّ إِلَى كَآفَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ شَيْئٌ لِلّهِ لَنَا وَلِوَا لِدِيْنَا وَلَهُمْ وَلَهُنَّ الفاتحة...
اِلَى حَضَرَةِ وَسَيِّدَنَا أَبِى الْعَبَّاسِ الْخَضِرِ بَلْيًا بن مَلْكَان عَلَيْهِ السَّلاَمْ الفاتحه ....
اِلَى حَضَرَةِ النَّبِيِّ الله إِلْيَاسْ عَلَيْهِ السَّلاَمْ الفاتحه ...
إِلىَ حَضَرَةِ شَيْخِنَا وَمُرَبِّ رُوْحِيْنَا الشَّيْخِ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بِنْ الشَّيْخِ أَحْمَدْ بَدَوِى الفاتحه
إِلىَ حَضَرَةِ خُصُوْصً....
اَشْهَدُ اَنْ لاَإِلَهَ اِلاَّ لله... وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ الله x 40
الله x 100/1000
هُو x 100/1000
يَافَتَّاحُ يَارَزَّاقُ يَاكَافِى يَامُغْنِى x 100
يَاحَنَّانُ يَامَنَّانُ x 100
يَامُبْدِئُ يَاخَالِقُ x 40
يَاقَوِيُّ يَامَتِيْنُ x 40
يَاحَيُّ يَاقَيُّوْمُ x 40
يَااَلله يَاكَافي x 9
يَاكَافي x 100
يَاسَلاَمُ x 100
سَلاَمٌ قَوْلاً مِنْ رَّبِّ رَّحِيْمٍ x 100
يَانَارُكُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلاَمًا عَلَى اِبْرَهِيْمَ x 100
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّالَهُ لَحَافِظُوْن x 10
اِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَاِنَّهُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ أَنْ لاَّتَعْلُوْ عَلَيَّ وَائْتُوْنِى مُسْلِمِيْن x 11
اِنَّ الَّذِى فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْأَنَ لَرَادُّكَ اِلَى مَعَادٍ x 11
وَأَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالاً وَّعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ x 11
رَبَّنَآ اِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لاَّرَيْبَ فِيْهِ اِنَّ اللّهَ لاَيُخْلِفُ الْمِيْعَادَ x 11
رَبِّ اَنْزِلْنِي مُنْزَلاً مُّبَارَكًا وَّاَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِيْن x 11
رَبِّ اِنِّيْ وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّيْ وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَّلَمْ اَكُنْ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيَّا x 11
رَبِّ اشْرَحْ لِى صَدْرِى وَيَسِّرْلِى أَمْرِى وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِسَانِى x 11
رَبِّ يَّسِرْ وَلاَتُعَسِّرْ فَإِنَّكَ اَنْتَ الْمُيَسِّرْ x 11
يس حم عسق كهيعص طه x 11
يس x 100
ن x 100
اَللهُ أَكْبَرْ x 100
لاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ x 10
اِنَّالِلّهِ وَاِنَّآ إِلَيْهِ رجِعُوْنَ x 11
قَلْبِى قُطْبِى وَقَالَبِى لُبْنَنِى سِرِّي خَضِرِي وَعَيْنَهُ عِرْفَانِى هَارُوْنُ عَقْلِى وَكَلِيْمِى رُوْحِى فِرْعَوْنِيْ نَفْسِى وَالْهَوَى هَامَانِى x 11
قَصَدْتُ الْكَافِي وَجَدْتُ الْكَافِي لِكُلٍّ كَافِي كَفَانِيَ الْكَافِى وَلِلّهِ الْحَمْد x 11

مَوْلاَيَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًا أَبَدًا * عَلَى حَبِيْبِكَ خَيْرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ
هُوَ الْحَبِيْبُ الَّذِى تُرْجَي شَفَاعَتُهُ * لِكُلِّ هَوْلٍ مِنَ اْلأَهْوَالِ مُقْتَحمِ
يَارَبِّ بِالْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا * وَاغْفِرْلَنَا مَامَضَى يَاوَاسِعَ الْكَرَمِ
اَلْفَاتِحَةْ عَلَى نِيَّةِ الْقَبُوْل وَتَمَام سُول وَمَأْمُول وَإِلَى حَضَرَةِ النَّبِيِّ الفاتحة
حَصَنْتُكُمْ بِالْحَيِّ الْقَيُّوْمِ الَّذِى لاَيَمُوْتُ وَدْفَعْ عَنْكُمُ .............. السُّوْءَ بِأَلْفِ أَلْفِ لاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّبِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ x 21



»»  JAPAR [Baca Selanjutnya...]

Kamis, 27 Juni 2013

Masjidil Haram




Masjid ini berbentuk empat persegi dan dibangun mengelilingi Ka’bah, berbeda dengan masjid manapun didunia, shaf di Masjidil Haram ini berbentuk lingkaran, semuanya menghadap ke Ka’bah yang berada di tengah-tengah. Ini merupakan keunikan yang tidak dimiliki masjid manapun di dunia. Adapun Spesifikasi Masjidil Haram :Luas Masjidil Haram ± 656.000 m², dapat menampung 730.000 jamaah dalam satu waktu sholat berjamaah pada hari biasa dan lebih dari 1juta jamaah pada musim Haji.
Memiliki Tiga Lantai
Menara berjumlah tujuh buah
Keistimewaan masjid ini adalah : Sholat di masjid ini lebih utama dari sholat 100.000 kali di masjid lain.
»»  JAPAR [Baca Selanjutnya...]

Zam Zam

ZAM-ZAM Dalam bahasa arab berarti air yang melimpah, sumur di bawah tanah yang terletak ± 20 meter sebelah Tenggara Ka’bah ini mengeluarkan air bersih dan jernih yang tiada henti, dan diamanatkan agar sewaktu meminum air Zam-zam harus niat.
Sebelum minum air zam-zam kita menghadap ke Ka’bah bermunajat kepada Allah SWT sebagai berikut :Bismillahirrahmaanirrahiim
“Ya Allah, aku mohon pada-Mu ilmu pengetahuan yang bermanfaat, rezeki yang luas dan disembuhkan dari segala macam penyakit”.Tentang air Zamzam ini sejarahnya tidak dapat dipisahkan dari isteri Nabi Ibrahim AS yaitu Siti Hajar dan putranya Ismail AS, waktu itu Ismail AS ibunya ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim AS di Mekkah, mereka kehabisan air minum, maka Siti Hajar berlari kecil dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah sebanyak 7 kali (sekarang dikenal dengan Sa’i) untuk mendapatkan air, namun tak menemukan setetes air pun.
Hingga akhirnya Allah SWT mengkarunia Siti Hajar beserta Nabi Ismail AS mata air yang terus mengalir dan dapat dinikmati hingga kini oleh seluruh umat islam yang berhaji maupun umrah.
»»  JAPAR [Baca Selanjutnya...]

Senin, 03 Juni 2013

Mengenal Anak-anak Nabi Muhammad SAW



ANAK-ANAK Nabi Muhammad SAW  berjumlah tujuh orang. Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Tarikh al-Hawadits wa-l-Ahwal an-Nabawiyyah karya as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani, putra-putri Rasulullah SAW adalah sebagai berikut.
Putra-Putri Nabi Muhammad SAW.
Al-Qasim, seorang laki-laki, anak pertama Rasulullah Saw. yang dilahirkan dan meninggal sebelum masuk masa kenabian (masa mulai turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad saw.), ketika meninggal ia masih berusia dua tahun.
Abdullah, putra Nabi saw. yang disebut juga at-Thayyib dan at-Thahir, ada pula yang berpendapat bahwa nama lainnya adalah at-Thayyib bukan at-Thahir. Mengenai kelahirannya ada yang berpendapat bahwa ia lahir ketika telah masuk masa kenabian, tetapi ada pula yang mengatakan kalau ia tak pernah menemui masa kenabian.
Zainab, anak perempuan Rasulullah saw. yang tertua. Melahirkan anak yang bernama ‘Aliy dan Yahya yang keduanya meninggal waktu masih kecil.
Ruqayyah, putri Rasulullah saw. yang diperistri oleh Utsman bin Affan. Beliau melahirkan seorang anak yang bernama Abdullah. Putri Rasulullah saw. ini wafat pada hari ketika Zaid bin Haritsah menyampaikan berita gembira tentang kemenangan kaum muslimin dalam pertempuran Badar.
Ummu Kultsum, putri Nabi saw. yang dinikahi Utsman bin Affan setelah saudarinya (Ruqayyah) wafat. Ummu Kultsum wafat pada bulan Sya’ban tahun 9 Hijriyah tanpa memiliki anak.
Fathimah (Fatimah), putri Nabi saw. yang diperistri oleh ‘Ali bin Abi Thalib. Beliau melahirkan anak yang bernama Hasan, Husain, Muhsin, Ruqayyah, Zainab dan Ummu Kultsum. Adapun Muhsin dan Ummu Kultsum meninggal waktu masih kecil.
Ibrahim, putra Rasulullah yang meninggal saat berumur tujuh puluh malam, ada pula yang mengatakan saat berusia tujuh bulan dan yang lain berpendapat berumur delapan bulan.
Putra-putri Nabi Muhammad saw. yang bernama al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fatimah dilahirkan di Makkah oleh istri Nabi saw. yang pertama, yaitu Khadijah r.a. Semua putri Rasulullah saw. pernah mengalami masa kenabian, masuk Islam dan turut berhijrah ke Madinah.
Adapun Ibrahim dilahirkan di Madinah oleh istri Nabi saw. yang bernama Maria al-Qibthiyyah (orang Mesir).
Semua anak-anak Nabi saw. meninggal saat beliau masih hidup, kecuali Fathimah yang wafat paling akhir, yakni tujuh bulan setelah wafatnya Rasulullah saw.
Mengapa Semua Putra Nabi Diwafatkan Masih Kecil?
Sebagaimana yang telah diterangkan di atas, putra-putra Rasulullah saw. (al-Qasim, Abdullah dan Ibrahim) semuanya meninggal ketika masih kecil, sehingga keturunan Rasulullah saw. diteruskan lewat anak perempuan beliau. Mengapa bukan dari anak laki-lakinya dan mengapa pula mereka diwafatkan sewaktu masih kecil?
Ini karena Nabi Muhammad saw. telah ditetapkan sebagai nabi terakhir sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah SWT. dalam al-Qur’an Surah al-Ahzab ayat 40 yang artinya:
“…tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
oleh karena itu seandainya putra-putra beliau tumbuh dewasa, maka mereka hanya akan menjadi orang biasa dan tidak akan mungkin menjadi nabi, padahal nabi-nabi yang lain mempunyai putra-putra yang juga menjadi nabi (seperti Nabi Ibrahim yang punya anak Nabi Ismail dan Nabi Ishaq; Nabi Ya’qub punya anak Nabi Yusuf; Nabi Daud punya anak Nabi Sulaiman), untuk itulah Allah mewafatkan putra-putra Rasulullah saw. agar kehormatan dan keutamaan beliau sebagai Pemimpin/Penghulu Para Nabi dan Rasul (Sayyidul Anbiya’ wal Mursalin) tetap terjaga. Walhasil, keturunan Rasulullah saw. diteruskan oleh anak perempuan beliau, karena orang perempuan tidak pernah menjadi nabi.

Disadur dari : http://forget-hiro.blogspot.com/2010/09/mengapa-semua-putra-nabi-diwafatkan.html
»»  JAPAR [Baca Selanjutnya...]

Minggu, 26 Mei 2013

Ajaran Sholawat Syekh Hasan Tohir


  • Membuka Hati dengan Dzikir dan Shalawat



PADEPOKAN Muslim Wonosalam yang terletak di Desa Trengguli Kecamatan Wonosalam Kabupaten Demak pada masa awal kerajaan Demak Bintoro mengalami perkembangan cukup pesat. Bukan semata karena para guru padepokan yang sebagian besar anggota walisongo, akan tetapi kekhusyukan santri ikut mendorong kesusksesan padepokan tersebut.
Di antara cara mendidik yang dikembangkan pengasuh padepokan tersebut adalah mengajarkan santrinya untuk memperbanyak dzikir dan shalawat.  Santri disarankan memperbanyak amalan dzikir dan shalawat sebagai kunci membuka hati, menyejukan jiwa serta meneran nafsu amarah.
Biasanya dzikir dan shalawat dibaca seusai shalat wajib dan shalat sunah qiyamul lail. Selain itu juga di dilakukan sebelum mengikuti proses belajar maupun sesudah belajar. Alunan dzikir dan shalawat juga menggema sebelum shalat maghrib dan subuh.
Pada hari Senin dan Kamis pembacaan dzikir ini ditingkatkan bersamaan dengan menjalankan puasa sunah. Kebiasaan dzikir dan shalawat ini tidak dipaksakan, tetapi dijadikan kebiasaan untuk diucapkan santri dan pengasuh padepokan. Karena telah menjadi kebiasaan sehingga baik dalam bibir maupun hati mereka terisi dzikir serta shalawat. Kebiasaan demikian menjadikan mereka mudah menerima ilmu yang ditransfer para kiai.
Pengasuh padepokan ini, Syekh Hasan Tohir bersama Syekh Ali Ahmad, Sayyidah Siti Arifah, Syekh Abdul Manan, Syekh Abdul Malik, Syekh Abdul Ghofur dan Sykeh Abdul Mutholib juga mengajarkan ilmu hikmah, di samping ilmu keagamaan syar'i, pengetahuan umum. Ilmu hikmah  menyelaraskan dengan kebiasaan mereka dalam berdzikir. Karenanya mereka mengajarkan pentingnya memegang kejujuran tinggi, yakni konsisten menjaga agar ucapan dan perbuatan sesuai dengan kebenaran dan realitas
Padepokan Muslim Wonosalam atau yang juga dikenal dengan Padepokan Trengguli terletak di wilayah pojok tepatnya di perbatasan dengan Desa Sedo/Nggenting Kecamatan Demak Kota. Padepokan ini memang tinggal kenangan, namun bukan berarti tidak meninggalkan jejak.






»»  JAPAR [Baca Selanjutnya...]