Senin, 01 Juli 2013

Bacaan Istighotsah Pecinta Wali


الإستغاثة
(ISTIGHOTSAH)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
إِلى حَضَرَةِ سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا رَسُوْلِ الله مُحَمَّدٍ بن عبدالله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَكَذَلِكَ مِنْ عَبْدِكَ الْفَقِيْرِ إِلَى فَضْلِكَ وَمَغْفِرَتِكَ وَحِفْظِكَ أَحْمَدْ بِنْ عَبْدُ الرَّحْمَنِ اَلْعَبْدَرِي وَسَيِّدِ الشَّيْخِ عَبْدِ الرَّحْمَن بِنْ اَحْمَدْ بَدَوِى وَسَيِّدِ الشَّيْخِ مُصْلِحْ بِنْ عَبْدِ الرَّحْمَنْ اَلْمَرَاقِى وَسَيِّدِ الشَّيْخِ عَبْدِ الْكَرِيمْ بَانْتَنِ وَسَيِّدِ الشَّيْخِ أَحْمَدْ خَطِيْبِ شَمْبَاسْ إِلَى صُلْطَانِ اْلأَوْلِيَاءِ الشَّيْخِ عَبْدُ الْقَادِرِ الْجِيْلاَنِى رَضِيَ الله عَنْهُ وَإِلَى شَيْخِ الطَّائِفَةِ الصُّوفِيَهِ أَبِى الْقَاسِمْ جُنَيْدِ الْبَغْدَادِى وَإِلَى اْلإِمَامِ جَعْفَرِ الصَّادِقْ وَإِلَى أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ سَيِّدِنَا عَلِى بِنْ أَبِى طَالِبِ كَرَّمَ الله وَجْهَهْ (اَللَّهُمَّ شَفِّعْهُمْ فِيْنَا فِى الدَّارَيْنِ بِجَاهِهِمْ عِنْدَكَ x 3) وَقَدِسْ أَرْوَاحَهُمُ الْعَزِيْزَةَ آمِيْن، ثُمَّ إِلَى كَآفَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ شَيْئٌ لِلّهِ لَنَا وَلِوَا لِدِيْنَا وَلَهُمْ وَلَهُنَّ الفاتحة...
اِلَى حَضَرَةِ وَسَيِّدَنَا أَبِى الْعَبَّاسِ الْخَضِرِ بَلْيًا بن مَلْكَان عَلَيْهِ السَّلاَمْ الفاتحه ....
اِلَى حَضَرَةِ النَّبِيِّ الله إِلْيَاسْ عَلَيْهِ السَّلاَمْ الفاتحه ...
إِلىَ حَضَرَةِ شَيْخِنَا وَمُرَبِّ رُوْحِيْنَا الشَّيْخِ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بِنْ الشَّيْخِ أَحْمَدْ بَدَوِى الفاتحه
إِلىَ حَضَرَةِ خُصُوْصً....
اَشْهَدُ اَنْ لاَإِلَهَ اِلاَّ لله... وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ الله x 40
الله x 100/1000
هُو x 100/1000
يَافَتَّاحُ يَارَزَّاقُ يَاكَافِى يَامُغْنِى x 100
يَاحَنَّانُ يَامَنَّانُ x 100
يَامُبْدِئُ يَاخَالِقُ x 40
يَاقَوِيُّ يَامَتِيْنُ x 40
يَاحَيُّ يَاقَيُّوْمُ x 40
يَااَلله يَاكَافي x 9
يَاكَافي x 100
يَاسَلاَمُ x 100
سَلاَمٌ قَوْلاً مِنْ رَّبِّ رَّحِيْمٍ x 100
يَانَارُكُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلاَمًا عَلَى اِبْرَهِيْمَ x 100
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّالَهُ لَحَافِظُوْن x 10
اِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَاِنَّهُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ أَنْ لاَّتَعْلُوْ عَلَيَّ وَائْتُوْنِى مُسْلِمِيْن x 11
اِنَّ الَّذِى فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْأَنَ لَرَادُّكَ اِلَى مَعَادٍ x 11
وَأَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالاً وَّعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ x 11
رَبَّنَآ اِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لاَّرَيْبَ فِيْهِ اِنَّ اللّهَ لاَيُخْلِفُ الْمِيْعَادَ x 11
رَبِّ اَنْزِلْنِي مُنْزَلاً مُّبَارَكًا وَّاَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِيْن x 11
رَبِّ اِنِّيْ وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّيْ وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَّلَمْ اَكُنْ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيَّا x 11
رَبِّ اشْرَحْ لِى صَدْرِى وَيَسِّرْلِى أَمْرِى وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِسَانِى x 11
رَبِّ يَّسِرْ وَلاَتُعَسِّرْ فَإِنَّكَ اَنْتَ الْمُيَسِّرْ x 11
يس حم عسق كهيعص طه x 11
يس x 100
ن x 100
اَللهُ أَكْبَرْ x 100
لاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ x 10
اِنَّالِلّهِ وَاِنَّآ إِلَيْهِ رجِعُوْنَ x 11
قَلْبِى قُطْبِى وَقَالَبِى لُبْنَنِى سِرِّي خَضِرِي وَعَيْنَهُ عِرْفَانِى هَارُوْنُ عَقْلِى وَكَلِيْمِى رُوْحِى فِرْعَوْنِيْ نَفْسِى وَالْهَوَى هَامَانِى x 11
قَصَدْتُ الْكَافِي وَجَدْتُ الْكَافِي لِكُلٍّ كَافِي كَفَانِيَ الْكَافِى وَلِلّهِ الْحَمْد x 11

مَوْلاَيَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًا أَبَدًا * عَلَى حَبِيْبِكَ خَيْرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ
هُوَ الْحَبِيْبُ الَّذِى تُرْجَي شَفَاعَتُهُ * لِكُلِّ هَوْلٍ مِنَ اْلأَهْوَالِ مُقْتَحمِ
يَارَبِّ بِالْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا * وَاغْفِرْلَنَا مَامَضَى يَاوَاسِعَ الْكَرَمِ
اَلْفَاتِحَةْ عَلَى نِيَّةِ الْقَبُوْل وَتَمَام سُول وَمَأْمُول وَإِلَى حَضَرَةِ النَّبِيِّ الفاتحة
حَصَنْتُكُمْ بِالْحَيِّ الْقَيُّوْمِ الَّذِى لاَيَمُوْتُ وَدْفَعْ عَنْكُمُ .............. السُّوْءَ بِأَلْفِ أَلْفِ لاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّبِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ x 21



»»  Japar Demak [Lanjut...]

Kamis, 27 Juni 2013

Masjidil Haram




Masjid ini berbentuk empat persegi dan dibangun mengelilingi Ka’bah, berbeda dengan masjid manapun didunia, shaf di Masjidil Haram ini berbentuk lingkaran, semuanya menghadap ke Ka’bah yang berada di tengah-tengah. Ini merupakan keunikan yang tidak dimiliki masjid manapun di dunia. Adapun Spesifikasi Masjidil Haram :Luas Masjidil Haram ± 656.000 m², dapat menampung 730.000 jamaah dalam satu waktu sholat berjamaah pada hari biasa dan lebih dari 1juta jamaah pada musim Haji.
Memiliki Tiga Lantai
Menara berjumlah tujuh buah
Keistimewaan masjid ini adalah : Sholat di masjid ini lebih utama dari sholat 100.000 kali di masjid lain.
»»  Japar Demak [Lanjut...]

Zam Zam

ZAM-ZAM Dalam bahasa arab berarti air yang melimpah, sumur di bawah tanah yang terletak ± 20 meter sebelah Tenggara Ka’bah ini mengeluarkan air bersih dan jernih yang tiada henti, dan diamanatkan agar sewaktu meminum air Zam-zam harus niat.
Sebelum minum air zam-zam kita menghadap ke Ka’bah bermunajat kepada Allah SWT sebagai berikut :Bismillahirrahmaanirrahiim
“Ya Allah, aku mohon pada-Mu ilmu pengetahuan yang bermanfaat, rezeki yang luas dan disembuhkan dari segala macam penyakit”.Tentang air Zamzam ini sejarahnya tidak dapat dipisahkan dari isteri Nabi Ibrahim AS yaitu Siti Hajar dan putranya Ismail AS, waktu itu Ismail AS ibunya ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim AS di Mekkah, mereka kehabisan air minum, maka Siti Hajar berlari kecil dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah sebanyak 7 kali (sekarang dikenal dengan Sa’i) untuk mendapatkan air, namun tak menemukan setetes air pun.
Hingga akhirnya Allah SWT mengkarunia Siti Hajar beserta Nabi Ismail AS mata air yang terus mengalir dan dapat dinikmati hingga kini oleh seluruh umat islam yang berhaji maupun umrah.
»»  Japar Demak [Lanjut...]

Senin, 03 Juni 2013

Mengenal Anak-anak Nabi Muhammad SAW



ANAK-ANAK Nabi Muhammad SAW  berjumlah tujuh orang. Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Tarikh al-Hawadits wa-l-Ahwal an-Nabawiyyah karya as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani, putra-putri Rasulullah SAW adalah sebagai berikut.
Putra-Putri Nabi Muhammad SAW.
Al-Qasim, seorang laki-laki, anak pertama Rasulullah Saw. yang dilahirkan dan meninggal sebelum masuk masa kenabian (masa mulai turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad saw.), ketika meninggal ia masih berusia dua tahun.
Abdullah, putra Nabi saw. yang disebut juga at-Thayyib dan at-Thahir, ada pula yang berpendapat bahwa nama lainnya adalah at-Thayyib bukan at-Thahir. Mengenai kelahirannya ada yang berpendapat bahwa ia lahir ketika telah masuk masa kenabian, tetapi ada pula yang mengatakan kalau ia tak pernah menemui masa kenabian.
Zainab, anak perempuan Rasulullah saw. yang tertua. Melahirkan anak yang bernama ‘Aliy dan Yahya yang keduanya meninggal waktu masih kecil.
Ruqayyah, putri Rasulullah saw. yang diperistri oleh Utsman bin Affan. Beliau melahirkan seorang anak yang bernama Abdullah. Putri Rasulullah saw. ini wafat pada hari ketika Zaid bin Haritsah menyampaikan berita gembira tentang kemenangan kaum muslimin dalam pertempuran Badar.
Ummu Kultsum, putri Nabi saw. yang dinikahi Utsman bin Affan setelah saudarinya (Ruqayyah) wafat. Ummu Kultsum wafat pada bulan Sya’ban tahun 9 Hijriyah tanpa memiliki anak.
Fathimah (Fatimah), putri Nabi saw. yang diperistri oleh ‘Ali bin Abi Thalib. Beliau melahirkan anak yang bernama Hasan, Husain, Muhsin, Ruqayyah, Zainab dan Ummu Kultsum. Adapun Muhsin dan Ummu Kultsum meninggal waktu masih kecil.
Ibrahim, putra Rasulullah yang meninggal saat berumur tujuh puluh malam, ada pula yang mengatakan saat berusia tujuh bulan dan yang lain berpendapat berumur delapan bulan.
Putra-putri Nabi Muhammad saw. yang bernama al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fatimah dilahirkan di Makkah oleh istri Nabi saw. yang pertama, yaitu Khadijah r.a. Semua putri Rasulullah saw. pernah mengalami masa kenabian, masuk Islam dan turut berhijrah ke Madinah.
Adapun Ibrahim dilahirkan di Madinah oleh istri Nabi saw. yang bernama Maria al-Qibthiyyah (orang Mesir).
Semua anak-anak Nabi saw. meninggal saat beliau masih hidup, kecuali Fathimah yang wafat paling akhir, yakni tujuh bulan setelah wafatnya Rasulullah saw.
Mengapa Semua Putra Nabi Diwafatkan Masih Kecil?
Sebagaimana yang telah diterangkan di atas, putra-putra Rasulullah saw. (al-Qasim, Abdullah dan Ibrahim) semuanya meninggal ketika masih kecil, sehingga keturunan Rasulullah saw. diteruskan lewat anak perempuan beliau. Mengapa bukan dari anak laki-lakinya dan mengapa pula mereka diwafatkan sewaktu masih kecil?
Ini karena Nabi Muhammad saw. telah ditetapkan sebagai nabi terakhir sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah SWT. dalam al-Qur’an Surah al-Ahzab ayat 40 yang artinya:
“…tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
oleh karena itu seandainya putra-putra beliau tumbuh dewasa, maka mereka hanya akan menjadi orang biasa dan tidak akan mungkin menjadi nabi, padahal nabi-nabi yang lain mempunyai putra-putra yang juga menjadi nabi (seperti Nabi Ibrahim yang punya anak Nabi Ismail dan Nabi Ishaq; Nabi Ya’qub punya anak Nabi Yusuf; Nabi Daud punya anak Nabi Sulaiman), untuk itulah Allah mewafatkan putra-putra Rasulullah saw. agar kehormatan dan keutamaan beliau sebagai Pemimpin/Penghulu Para Nabi dan Rasul (Sayyidul Anbiya’ wal Mursalin) tetap terjaga. Walhasil, keturunan Rasulullah saw. diteruskan oleh anak perempuan beliau, karena orang perempuan tidak pernah menjadi nabi.

Disadur dari : http://forget-hiro.blogspot.com/2010/09/mengapa-semua-putra-nabi-diwafatkan.html
»»  Japar Demak [Lanjut...]

Minggu, 26 Mei 2013

Ajaran Sholawat Syekh Hasan Tohir


  • Membuka Hati dengan Dzikir dan Shalawat



PADEPOKAN Muslim Wonosalam yang terletak di Desa Trengguli Kecamatan Wonosalam Kabupaten Demak pada masa awal kerajaan Demak Bintoro mengalami perkembangan cukup pesat. Bukan semata karena para guru padepokan yang sebagian besar anggota walisongo, akan tetapi kekhusyukan santri ikut mendorong kesusksesan padepokan tersebut.
Di antara cara mendidik yang dikembangkan pengasuh padepokan tersebut adalah mengajarkan santrinya untuk memperbanyak dzikir dan shalawat.  Santri disarankan memperbanyak amalan dzikir dan shalawat sebagai kunci membuka hati, menyejukan jiwa serta meneran nafsu amarah.
Biasanya dzikir dan shalawat dibaca seusai shalat wajib dan shalat sunah qiyamul lail. Selain itu juga di dilakukan sebelum mengikuti proses belajar maupun sesudah belajar. Alunan dzikir dan shalawat juga menggema sebelum shalat maghrib dan subuh.
Pada hari Senin dan Kamis pembacaan dzikir ini ditingkatkan bersamaan dengan menjalankan puasa sunah. Kebiasaan dzikir dan shalawat ini tidak dipaksakan, tetapi dijadikan kebiasaan untuk diucapkan santri dan pengasuh padepokan. Karena telah menjadi kebiasaan sehingga baik dalam bibir maupun hati mereka terisi dzikir serta shalawat. Kebiasaan demikian menjadikan mereka mudah menerima ilmu yang ditransfer para kiai.
Pengasuh padepokan ini, Syekh Hasan Tohir bersama Syekh Ali Ahmad, Sayyidah Siti Arifah, Syekh Abdul Manan, Syekh Abdul Malik, Syekh Abdul Ghofur dan Sykeh Abdul Mutholib juga mengajarkan ilmu hikmah, di samping ilmu keagamaan syar'i, pengetahuan umum. Ilmu hikmah  menyelaraskan dengan kebiasaan mereka dalam berdzikir. Karenanya mereka mengajarkan pentingnya memegang kejujuran tinggi, yakni konsisten menjaga agar ucapan dan perbuatan sesuai dengan kebenaran dan realitas
Padepokan Muslim Wonosalam atau yang juga dikenal dengan Padepokan Trengguli terletak di wilayah pojok tepatnya di perbatasan dengan Desa Sedo/Nggenting Kecamatan Demak Kota. Padepokan ini memang tinggal kenangan, namun bukan berarti tidak meninggalkan jejak.






»»  Japar Demak [Lanjut...]

Minggu, 19 Mei 2013

Sholawat Puji Rasul, Dzikir Luar Biasa

Ingat Allah, Rasulullah dan Waliyullah


BANYAK di antara kita umat Islam melakukan amalan dzikir. Dan banyak bacaan dzikir yang bisa dijadikan amalan dengan harapan mendekatkan diri kepada Allah. Amalan dzikir jika dilanggengkan akan memberi cahaya bathin. Cahaya ini bahkan bisa dirasakan oleh orang lain yang dekat dengan orang yang punya kebiasaan berdzikir.

Salah satu dzikir yang dengan cepat dapat dirasakan adalah dzikir dengan shalawat atau yang lebih dikenal dengan Puji Rasul. Mereka yang mampu mengamalkan dzikir shalawat ini akan merasakan cahaya mengelilingi tubuhnya dan kedamaian bathin yang menyejukan.

Berikut ini, cara dan tahapan untuk dzikir Puji Rasul

Tata Cara :
* Dzikir ini dimulai pukul 24.00 atau pukul 12.00 malam hari dan harus selesai sebelum shalat subuh.
* Tubuh harus dalam kondisi suci dan berwudhu

* Selama menjalankan amalan ini tidak diperbolehkan pindah tempat dan jangan mudah terganggu oleh apapun yang datang.

Awali dengan :
Shalat Sunah Tahajud 2 rakaat
Shalat Sunah Hajat 2 rakaat
Kemudian duduk bersilah di atas sajadah dan menghadap ke arah kiblat

Membaca Alfatekhah (x 141) untuk Nabi Muhammad SAW
Membaca Alfatekhah (x 141) untuk Malaikat Jibril

Kemudian membaca shalawat nabi; Shalallah ala Muhammad (x 11 ribu).

*  Selama puji rasul harus suci atau wudlunya tidak batal). Kalau batal, maka harus diulangi besok harinya.

-------------------------------
INGATLAH bahwa Allah Swt selalu memberi kemudahan dan mengabulkan doa hamba-hambanya
»»  Japar Demak [Lanjut...]

Doa Penyembuhan Anak Menangis Tengah Malam atau Susah Tidur

Ingat Allah, Rasulullah dan Waliyullah

Bismillah Walhamdulillah

Semoga Allah SWT Senantiasa memberi perlindungan dan pertolongan kepada kita semua. Segala penyakit pasti ada obatnya, baik dengan cara medis maupun non medis. Sedikit saya ingin berbagai dengan saudara umat Muslim, terkait do'a - do'a untuk penyembuhan.
Kali ini adalah do'a untuk mengobati anak yang susah tidur atau rewel, menangis tengah malam.

Pertama-tama, baca Basmalah berupa Bismillahir Rahmanir Rahim 
Kemudian  ambil air dan berwudhu
Sampaikan do'a atau permintaan kepada Allah Swt, agar gangguan yang dirasakan anak saudara hilang seizin Allah.

Setelah itu baca Surat Alfatekhah, dan ketika sampai pada ayat Iyyakana' Budu Waiyya Kanastain dibaca tiga kali tetapi tidak bernafas atau nafas ditahan. Kemudian baru dilanjutkan (bernafas) Ihdinas sirothol Mustaqim dan seterusnya sampai selesai.
Setelah itu tiupkan udara ke arah ubun-ubun kepala anak dan ke arah tungkak leher belakang sambil tangan anda digerakan dari bawah kungkak leher ke atas.

Akhiri dengan bacaan Alhamdulillah.


Insya Allah, doa Anda mengentarkan kesembuhan, Amin.
»»  Japar Demak [Lanjut...]

Rabu, 15 Mei 2013

Nama-nama Sultan sampai Bupati Demak

Ingat Allah, Rasulullah dan Waliyullah


NAMA PENGUASA, SULTAN, ADIPATI, BUPATI, DEMAK TAHUN 1403 SAMPAI SEKARANG
1. Pangeran Jimbun/sultan Fattah 1478 – 1518
2. Raden Makasar/sultan Patiunus 1518 – 1521
3. Raden Haryo/sultan Trenggono 1521 – 1546
4. Masa kosong situasi keluarga 1546 – 1560
5. R.M. karebet/sultan Hadiwijoyo 1560 – 1575
6. Masa transisi pindah ke Pajang 1575 – 1582
7. Hadipati Haryo Panggiri 1582 – 1586
8. Tumenggung Wironegoro 1586 – 1606
9. Hadipati Haryo nagoro 1606 – 1613
10. Ki Ageng Batang 1613 – 1616
11. Hadipati Yudonegoro 1616 – 1617
12. Ki Ageng Gombong 1617 – 1619
13. Situasi tidak stabil/penjajahan 1619 – 1621
14. Ki Ageng Seda Laren 1621 – 1646
15. Kembali situasi tidak stabil/penjajahan 1646 – 1649
16. Hadipati Mangkuprojo 1649 – 1701
17. Kondisi makin memburuk/penjajahan 1701 – 1734
18. Hadipati Wiryokusumo/Pn Krapyak 1734 – 1757
19. Hadipati Somodiningrat Kaloran 1757 – 1760
20. Ki Ageng Bogor 1760 – 1763
21. Situasi kosong/komplang 1763 – 1772
22. KI Ageng Kaliwungu 1772 – 1776
23. Haryo Nagoro/R.Brotokusumo 1776 – 1781
24. Hadipati Wiryo Hadinegoro 1781 – 1801
25. Situasi kosong Pangeran Cokro Negoro
Membangun pendhopo kadipaten
(sekarang kabupaten Demak) 1801 – 1845
26. K.P. Aryo Condronegoro IV 1845 – 1864
27. K.P. Aryo Poerbodiningrat 1864 – 1881
28. K.P. Haryodiningrat/Suryodiningrat
(putra kasunanan Surakarta) 1881 – 1901
29. Kosong /komplang akibat penjajah 1901 – 1918
30. K.R.T. Cokro Hamijoyo 1918 – 1923
31. K.R.T. Sosro Hadiwijoyo 1923 - 1936
32. Raden Iskandar Tirto Kusumo 1936 – 1942
33. Raden Soepangat 1942 – 1945
34. Raden Haryo Joyo Sudarmo 1945 – 1948
35. K.R.T. Rawuh Rekso Hadiprojo 1948 – 1949
36. Raden Soekirdjo 1949 – 1953
37. Raden Soekandar 1953 – 1957
38. Raden Sidoel Karta Atmojo 1957 – 1958
39. Raden Indriyo Yatmopranoto 1958 – 1966
40. Doemami, SH 1966 – 1972
41. Drs. Moch. Adnan Widodo 1972 – 1973
42. Drs. Winarno Surya Adi Subraya 1973 – 1978
43. Drs. H. Soedomo 1978 – 1984
44. Kol. E. Sumartha 1984 – 1985
45. Drs. Waluyo Cokrodarmanto 1985 – 1986
46. Kol. H. Soekarlan 1986 – 1996
47. Kol. H. Djoko Widji Suwito, SIP 1996 – 2002
48. Dra. Hj. Endang Setyaningdyah, MM 2002 – 2006
49. Drs. H. Tafta Zani, MM 2006 – 2012
50. H.M.  Dachirin Said SH MSi 2012-2015
51. H.M Natsir MPd 2016-2021





»»  Japar Demak [Lanjut...]

Minggu, 27 Januari 2013

Syekh Jagur atau Syekh Hasan Basori



Salah satu ulama yang memiliki peran penting bagi penyebaran Islam di Tanah Jawa dan ikut tampil pada masa keemasan kerajaan Demak Bintoro adalah Syekh Hasan Basori atau yang lebih dikenal dengan sebutan ke-wali-an Syekh Jagur. Pria berkumis tipis dan wajah putih tersebut merupakan juru tulis atau sekretaris kerajaan.
Perannya dalam kegiatan keagamaan yang dipusatkan di Masjid Agung Demak juga sebagai sekretaris. Berbagai kegiatan keagamaan, baik acara tahunan maupun rapat-rapat disimpannya. Sayang data-data atau dokumen protokoler tersebut ikut hilang bersamaan dengan perpindahan kerajaan Demak ke Pajang.
Data memang hilang bersama hilangnya kerajaan Demak, namun Makam Syekh Jagur sampai saat ini masih ada dan berada di belakang Masjid Agung Demak. Tidak banyak orang yang tahu sejarah hidup sang juru tulis tersebut.
Akan tetapi yang paling menonjol, selama mengabdi untuk perjuangan Islam di Demak, Syekh Jagur adalah pribadi yang menyukai pakaian batik. Bahkan, beberapa pakaian jubah yang ia pakai pun berupa jubah batik dengan motif daun dan ukiran.warna hijau, biru dan emas.
»»  Japar Demak [Lanjut...]

Minggu, 17 Juni 2012

Padepokan Muslim, Syekh Hasan Tohir Trengguli





SYEKH Hasan Tohir merupakan salah seorang ulama yang hidup pada masa rintisan Kerajaan Demak. Dia memiliki garis keturunan dengan Sunan Gresik. Beliau bermukim di Demak, lokasi tepatnya sekarang adalah di Desa Trengguli, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak.
Semasa hidupnya, dia bersama kiai dan tokoh agama Islam lainnya bermukim di tempat yang digunakan untuk mendidik para calon dai yang akan diterjunkan di sejumlah daerah. Terdapat sembilan guru ahli agama yang mengusai berbagai ilmu, seperti ahli kitab, ahli ilmu kanuragan, pengobatan, kebathinan, mantek dan lainnya.
Mereka yang bearad di Padepokan Muslim tersebut antara lain Syekh Maulana Abdurrahman bin Syekh Abdullah (penasehat), Syekh Hasan Tohir (pimpinan/pengasuh padepokan), anggota pengasuh Syekh Ali Ahmad (keturunan Sunan Muria), Nyai Sayidah Siti Arifah (keturunan Sunan Ampel), Syekh Abdul Mutholib, Syekh Maulana Saifuddin, Syekh Abdul Manan, Syekh Abdul Malik, Syekh Abdul Ghofur.
Kesembilan guru tersebut mendidik para santri dengan tahapan yang detail. Masing-masing mereka mentransfer ilmunya kepada para santri dengan cara yang mudah difahami. Para santri juga mengikuti pendidikan dengan rajin, serius, penuh kesabaran, ketaan, dan keikhlasan.
Para santri bukan hanya didik soal agama, cara beribadah yang bernar, membiasakan semua langkah dengan dzikir dan shalawat, tetapi juga diberi pemahaman tentang kanuragan, pengobatan, mantek dan sebagainya. Kesemua ilmu tersebut sangat bermanfaat untuk syiar Islam.
Sikap dan rasa prihatin ditanamankan kepada para santri dengan maksud agar mereka lebih siap mental menghadapi persoalan tersulit. Sebab, perjuangan syiar Islam bukan hal mudah, terutama syiar yang dilakukan di daerah terpencil, pedalaman. Apalagi bila mendapat perlawanan dari pemegang kekuasaan atau oleh mereka yang punya kekayaan.
Pendidikan di Padepokan ini juga mendapat pengajaran langsung dari Walisongo, seperti Sunan Gresik, Sunan Giri, Sultan Fatah, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Ampel, Sunan Gunungjati, Sunan Drajat, Sunan Kudus dan Sunan Bonang. Mereka menjadi guru yang menempat ilmu-ilmu khos (khusus).
Di padepokan tersebut selalu diisi dengan kalam illahi. Suara dzikir, shalawat seperti menghiasi waktu yang terus berputar. Ketika sebagian santri belajar ilmu pengobatan, santri lain ilmu kanuragan, mantek, lainnya berdzikir. Suasana terasa damai dengan berbagai aktivitas tersebut. Canda tawa tidak pernah mengurangi makna keseriusan mereka dalam belajar.
Lulus
Para santri yang dinyatakan mumpuni atau lulus langsung diarahkan untuk menyebarkan Islam ke daerah penjuru nusantara. Bahkan, ada yang berdakwah syiar Islam ke daerah lain di manca negara.
Meski telah berada di daerah lain, tak jarang komunikasi tetap dilakukan. Seperti dengan mengirimkan warga yang telah masuk Islam untuk menjadi santri di padepokan tersebut. Peran padepokan ini terbukti mempercepat penyebaran Islam di Indonesia. Di antara mereka ada yang mendirikan pondok pesantren, ada pula yang mendirikan pendidikan agama di suro-suro dan lainnya.
Namun seiring perjalanan waktu, Padepokan Muslim ini seperti tak meninggalkan jejak. Para pengasuh dan pendiri padepokan meninggal dan dikebumikan di lokasi tersebut. Kini yang tersisa hanyalah sejarah. Namun hasil perjuangan mereka telah mendukung perjuangan Walisongo dalam menyebarkan Islam di Indonesia, bahkan sampai Malaysia, Brunai Darrussalam, Philipina, Tailand, Kamboja. Perkembangan Islam di Indonesia berkembang begitu pesat. (*)

»»  Japar Demak [Lanjut...]

Minggu, 27 Mei 2012

Cincin Keberuntungan



Alkisah, ada seorang ayah yang memiliki tiga orang putra, yang sama baiknya. Ia memiliki sebuah cincin yang dianggapnya bertuah, karena sejak digunakan selalu membawa keberuntungan dan kesuksesan bagi dirinya. Si ayah yang telah lanjut usia merasa sudah saatnya mewariskan cincin bertuah miliknya. Tapi bagaimana memberikan satu cincin untuk 3 anak? Alangkah tidak adilnya, apabila hanya 1 anak yang mewarisi cincin keberuntungan tersebut, sedangkan 2 anak yang lain tidak. Setelah berpikir cukup lama, ia pun pergi ke seorang pengrajin emas untuk dibuatkan dua cincin yang sama persis dengan cincin keberuntungannya. Setelah siap, si ayah memanggil ketiga putranya dan berkata, "Anak-anakku, ayah mewariskan kepada kalian cincin keberuntungan ini! Siapa saja yang memakainya, maka dia akan beruntung. Pakailah semua ilmu yang telah ayah ajarkan dan kenakan selalu cincin itu. Ayah yakin, masing-masing dari kalian akan selalu beruntung dan sukses seperti ayah."Ada perasaan tidak puas di antara ketiga putranya itu, karena mereka tahu bahwa hanya ada satu cincin yang asli. Tetapi mereka tidak tahu, siapa sesungguhnya, yang mendapatkan cincin asli. Setelah sang ayah meninggal, dengan penasaran, mereka menghadap seorang hakim yang terkenal bijaksana untuk mencari tahu mana cincin yang asli, sekaligus meminta jalan keluar.Setelah mengamati ketiga cincin, hakim bijaksana itu berkata, "Sejujurnya saya tidak dapat menolong dan memberitahu kalian, yang mana cincin bertuah yang asli. Saya sebagai hakim menetapkan: pakailah cincin kalian masing-masing. Mulai sekarang, bekerjalah dengan baik, dengan keras, seperti yang ayah kalian ajarkan! Buktikan bahwa kalian adalah orang yang pantas diberikan cincin keberuntungan oleh ayahmu. Karena, dengan memberikan cincin yang sama, ayah kalian mengharapkan kalian bertiga sama-sama beruntung dan meraih kesuksesan."Ketiganya pun mengucapkan terima kasih dan pergi dari sana, sambil bertekad untuk membuktikan bahwa cincin yang dipakainya itu asli dan bertuah.Setelah beberapa tahun berlalu, sukses demi sukses mereka raih bersama. Dan akhirnya mereka pun sadar, dan mengerti, bahwa bukan cincin bertuah yang membuat mereka sukses, melainkan usaha pantang menyerah dari mereka sendirilah yang mampu membawa keberuntungan dan kesuksesan.Netter yang LuarBiasa,Bukan sesuatu di luar diri kita, yang membuat kita sukses atau beruntung. Bukan cincin ajaib, pakaian khusus, jimat, atau apapun yang kita kenakan, yang menjadi penentu keberhasilan kita. Tetapi pola pikir, sikap mental, berikhtiar keras, serta doa yang pada akhirnya akan membawa keberuntungan dan kesuksesan.Tuhan dan alam semesta telah memberikan kehidupan yang lengkap di dalam diri kita. Kita yang harus membuktikan bahwa anugerahNya itu mampu membuat kita beruntung, berhasil, dan bermanfaat bagi banyak orang.

Salam sukses luar biasa! 

»»  Japar Demak [Lanjut...]

Rabu, 23 Mei 2012

Sejarah Keraton Demak, Situs Kerajaan Yang Hilang



Oleh : Hasan Hamid

 SEJARAH mencatat pada abad XV hinggga XVI terdapat kerajaan besar yang berpusat di Demak dengan rajanya, Sultan Fatah. Situs yang tertinggal, seperti Masjid Agung Demak menjadi buktinya. Tetapi, muncul pertanyaan dimanakah sebenarnya letak Keraton Demak itu?
Pertanyaan itu menjadi wacana yang selalu diperbincangkan dan belum ada yang menemukan jawabannya. Padahal, berbagai penelitian telah dilakukan. Bukan hanya oleh akademisi, peneliti, arkeolog, tetapi juga mereka yang memiliki minat dan keingintahuan menapak jejak kerajaan Demak.
Hasilnya, banyak pihak yang memiliki pandangan berbeda tentang posisi yang pasti letak keraton itu. Persoalan tersebut menjadi bahan kajian menarik dalam seminar bertema ’’Mengungkap Silsilah dan Situs Kerajaan Demak’’ yang diadakan LSM Gelora di aula Gedung DPRD Demak, kemarin.
Tampil sebagai pembicara Prof Dr Wasino M Hum (guru besar sejarah Unnes) Prof Dr H A Sutarmadi (UIN Syarif Hidayatullah), Drs H Masrun M Nor MH, Triyanto Triwikromo (Redaktur Suara Merdeka) dan R Sumito Joyo Kusumo. Prof Wasino mengungkapkan, runtuhnya kerajaan Demak terjadi beberapa waktu setelah wafatnya Sultan Trenggono. Saat itu, terjadi konflik keluarga.
Situsnya Hilang
Mengenai letak Keraton Demak, dia mengatakan, situs yang tinggal reruntuhan itu dihancurkan oleh pemerintahan Belanda pada masa Gubernur Jenderal Daendels. Posisi keraton dipakai untuk jalan dari arah Semarang hingga ke Demak. ’’Posisi situs kerajaan itu berada di sebelah alun-alun Demak yang sekarang menjadi jalan raya. Situs tersebut telah hancur sejalan dengan perkembangan jalan daendels yang telah merobohkan bekas keraton.’’
Bekas istana semakin hilang pada akhir abad ke XIX, bertepatan dengan pembuatan jalur kereta api Semarang-Juwana melalui Demak. Pembuatan jalur kereta api tepat melalui pusat kerajaan (keraton) Demak. ’’Jadi situs bangunan kerajaan Demak ini kemungkinan sudah hilang,’’ katanya.
Masrum M Noor mengatakan, telah banyak rekomendasi yang disampaikan para penulis sejarah Demak tentang letak keraton Kesultanan Demak. Di antaranya, hasil penelitian IAIN Walisongo tahun 1975 yang merekomendasikan ada tiga kemungkinan letak istananya. Yakni, di sekitar stasiun kereta api sebagai rumah Sultan Fatah. Sedangkan, keratonnya beradai di Lembaga Pemasyarakatan atau lokasinya berhadapan dengan Masjid Agung Demak.
Hasil penelitian Fakultas Sastra Undip tahun 1994-1995 menyebutkan, lokasi paling relevan itu di sebelah selatan alun-alun menghadap ke utara yang oleh masyarakat disebutkan setinggil.
Hasil penelitian tim pencari pusat dan tata letak pemerintahan kerajanaan Islam menyebutkan hasil tes geolistrik atau pemetaan wilayah melalui udara, posisi kerajaan berada di lahan yang kini dipergunakan untuk kantor Kejaksaan Negeri. Di situ juga pernah ditemukan keramik-keramik keraton. R Sumito Joyo Kusumo mengatakan, tepat keraton berada di tanah yang dipakai untuk SMPN 2 Demak.
Persoalan sejarah Demak yang masih simpang siur, menurut Triyanto Triwikromo agaknya akan menyulitkan dalam mencari bekar keraton. Karenanya perlu dilakukan penelitian arkelogis, historis, geologis dan geografis guna mengungkap misteri tersebut. ’’Termasuk juga perlu penelitian kultural, politis dan ekonomis untuk menyatakan lokasi keraton,’’ terangnya.  (*)
»»  Japar Demak [Lanjut...]

KH Abdullah Mudzakir Pencetak Kader Kiai dari Tambaksari, Sayung, Demak



Oleh  : Hasan Hamid

TERIK matahari yang menyengat kulit tak menyurutkan niat sejumlah orang menuju makam KH Abdullah Mudzakir di perairan Sayung, Demak. Mereka terus menyusuri jalan setapak sepanjang 700 meter yang kanan-kirinya laut. Begitu sampai di kompleks makam, mereka melepaskan alas kaki dan duduk bersila di depan nisan berkeramik hijau. Wajah para peziarah itu masih terlihat kemerahan.

Di makam berukuran 7 x 7 meter itu mereka merasa sejuk. Selain terlindung cungkup, angin laut yang bertiup terasa menyegarkan. Sebelum memulai tahlil, juru kunci makam Kiai Fauzan (54) menabur bunga mawar ke pusara. Bau wangi bunga kian menambah suasana sakral. Dia duduk di sisi barat makam untuk memimpin tahlil. Para peziarah mengikutinya dengan khidmat.

Nama KH Abdullah Mudzakir, atau biasa disebut Mbah Mudzakir, di kalangan pesantren cukup dikenal.

Tak heran bila banyak santri yang datang untuk berziarah. Mereka tidak hanya dari Demak, tetapi juga luar daerah seperti Kudus, Wonosobo, Bogor, Bandung, bahkan Kalimantan. Meski makam kiai kharismatik itu berada di tengah laut, konon tidak pernah tergenang oleh air pasang. Di sekitarnya memang terlihat banyak makam yang telah tergenang air. Hanya makam Mbah Mudzakir bersama istri dan anak-anaknya yang tidak terjamah air laut.

Sampai saat ini makam tersebut tidak pernah sepi dari peziarah. Biasanya mereka datang pada Jumat atau saat haul Mbah Muzakir di Bulan Zulkaidah.

Lokasi makam dapat ditempuh dengan jalur darat dan laut. Jika melewati darat, terdapat jalan penghubung berupa titian kayu sepanjang 200 meter dari Dusun Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Demak. Bila rob tiba, jalan itu tak lagi dapat dilalui karena tergenang air. Jalan setapak di Dusun Tambaksari juga tak bisa dilewati saat air pasang tinggi. Untuk tetap bisa ke lokasi, peziarah harus naik perahu.

Fauzan yang masih memiliki garis keturunan dengan Mbah Mudzakir menuturkan, pada mulanya kompleks pemakaman menyatu dengan daratan Dusun Tambaksari. Namun sejak 1998 Tambaksari terkikis oleh abrasi pantai.

Ketika air laut pasang seluruh perkampungan pun tergenang. Semula air pasang hanya menggenangi jalan, tetapi lama-kelamaan mencapai 60 cm. Kondisi itu membuat 80 keluarga di dusun itu memilih pindah. Sekitar tahun 1999, mereka bedhol desa ke Desa Purwosari.

Namun lima keluarga yang mempunyai hubungan saudara dengan Mbah Mudzakir memilih untuk bertahan, termasuk Fauzan. Mereka tetap bertahan karena merasa berkewajiban menjaga makam leluhurnya itu.


Kader Kiai

Siapa sesungguhnya Mbah Muzakir, hingga mendapat penghormatan banyak santri dan masyarakat? Menurut Fauzan, Mbah Muzakir adalah ulama yang semasa hidupnya melakukan syiar Islam di kawasan Pantai Sayung.

Semasa muda, pria yang lahir di Dusun Jago Desa Wringinjajar, Kecamatan Mranggen tahun 1869 itu banyak berguru kepada ulama dari berbagai daerah.

Setelah merasa cukup, sekitar tahun 1900 ia menetap di Tambaksari, Bedono serta menikahi Latifah dan Asmanah. Beberapa waktu kemudian dia menikah lagi dengan Murni dan Imronah. Dari empat istrinya Mbah Muzakir dikaruniai 18 anak.

Di tempat itu, ia mulai melakukan syiar Islam. Sebuah masjid pun didirikan. Cara penyampaian materi keagamaan yang mudah dicerna membuat banyak santri mengaji kepadanya. Mereka kebanyakan takmir musala serta masjid di Demak dan daerah sekitarnya. Karena itulah, ia sering disebut sebagai pencetak kader kiai. Bahkan semua keturunannya menjadi pemangku masjid dan musala.

Kiai yang sehari-hari menjadi petani tambak itu juga menguasai ilmu kanuragan. Ia kerap dimintai orang untuk menyembuhkan pelbagai penyakit. Kendati demikian, ia tak mengharapkan imbalan dari pertolongannya itu. Tak dimungkiri, keahlian dan keikhalasannya membuat nama Mbah Mudzakir kian dikenal orang. Dan itu amat mendukung upayanya dalam melakukan syiar Islam. Pada 1950 Mbah Muzakir meninggal dunia dalam usia 81 tahun.

Menurut Camat Sayung, Drs Eddie Jatmiko MM, makam Mbah Muzakir punya potensi untuk dikembangkan sebagai objek wisata ziarah.


Diposkan dari Suara Merdeka
»»  Japar Demak [Lanjut...]

Mbah Lim di Kebumikan di Makam Kompleks Ponpes Al Muttaqien Pancasila Sakti, Klaten

Ingat Allah, Rasulullah dan Waliyullah



KLATEN- KH Muslim Rifa’i Imampuro atau yang akrab disapa Mbah Liem, wafat di Rumah Sakit Islam (RSI) Klaten, Kamis (24/5/2012) pagi.
Kiai yang dikenal dekat dengan Gus Dur tersebut meninggal dunia dalam usia 105 tahun.
Menantu Mbah Liem, Jazuli A Kasmani ketika dikonfirmasi melalui pesan singkat (SMS) membenarkan bahwa mbah Liem meninggal di RSI Klaten sekitar pukul 04.00 WIB.
Rencananya siang ini jenazah Mbah Liem akan dimakamkan di kompleks pondok pesantren (Ponpes) Al Mutaqqin Pancasila Sakti di Troso, Sumberrejo, Karanganom, Klaten berdampingan dengan makam istrinya. Saat ini jenazah kiai yang disemayamkan di kompleks pondok.


Ulama besar, KH Moeslim Rifa'i Imampuro atau yang akrab disapa Mbah Liem akan dimakamkan di Makam Hastono Giri Mulyo, Dukuh Sumberejo Wangi, Desa Troso, Kecamatan Karanganom, Klaten, Kamis (24/5) pukul 20.00 WIB.
Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti Klaten itu meninggal dunia di RS Islam Klaten, Kamis (24/5) pukul 05.00 WIB. Kiai sepuh itu meninggalkan sembilan putra dan 15 cucu di usia 91 tahun.
Menurut putra ketiganya, KH ACH Saifudin Zuhri Moeslim, Mbah Liem meninggal dalam kondisi sehat. Dia dirawat inap di RSI Klaten sejak Senin (21/5) untuk keperluan cek up kesehatan dan agar bisa beristirahat supaya tak kecapaian.
"Hasil cek up jantung, kolesterol dan lainnya dinyatakan oleh dokter normal. Rencananya, hari ini diperbolehkan pulang, ternyata Allah berkehendak lain. Beliau meninggal sekitar pukul 05.00 WIB," kata Zuhri di rumah duka.
Mbah Liem dikenal dekat dengan sejumlah tokoh nasional. Mantan presiden KH Abdurrahman Wahid pun penah berkunjung ke rumahnya, begitu juga keluarga Cendana, Wakil Gubernur Jateng Rustriningsih, tokoh nasional Surya Paloh, sampai seniman kawakan Iwal Fals dan masih banyak lagi.

update Suara Merdeka dan Solopos
»»  Japar Demak [Lanjut...]

Mbah Liem, Pengayom Umat



Mbah Lim: SBY Harus Batalkan PLTN
- Kiai Sahal Diminta ke Balong



JEPARA-Pengasuh Ponpes Al Muttaqin Klaten, KH Muslim Rifai Imam Puro (Mbah Lim) meminta Presiden SBY untuk segera membatalkan rencana pembangunan PLTN Muria di Semenanjung Muria.

Permintaan itu dituangkan dalam secarik kertas yang ditulis di depan makam Syekh Siti Jenar di Desa Balong Kecamatan Kembang, Jepara, dan disaksikan warga desa setempat, Selasa (11/9).

''Presiden SBY terpilih 2004, dengan hormat, PLTN yang akan dibangun di Jepara seratus persen harap dibatalkan demi kemanusiaan yang manusiawi. (Kalau PLTN dibatalkan), tak dongakke 2009 bisa terpilih sebagai presiden.''

Demikian bunyi surat yang ditulis Mbah Lim. Saat menuliskan surat, dia didampingi Ketua PCNU KH Nuruddin Amin dan Ketua Koalisi Rakyat Tolak PLTN (Kraton), Setyawan Sumedi.

Warga Desa Balong berbondong-bondong menuju lokasi yang dipercaya sebagai makam Syekh Siti Jenar, begitu mendengar Mbah Lim akan menemui mereka di tempat itu. Mereka berjalan kaki dua kilometer untuk sampai di lokasi yang ada di Dukuh Gecak itu.

Di tengah-tengah warga, pendiri Universitas Muslimin Republik Indonesia (UMRI) Klaten itu juga meminta warga tetap tenang dan membaca wirid asmaul husna 1.000 kali agar rencana proyek senilai Rp 78 triliun itu tak dilanjutkan. ''PLTN harus batal total. Mohon selamat dan diridlai Gusti Allah,'' ujarnya.

''Nek ana sing ngeyel, embuh pejabat, embuh wong cilik, iku tanggungjawabe Allah. Aku emoh ndongakke elek. Ojo koyo lumpur Lapindo Jawa Timur. Presiden SBY cs perlu menyadari, kemanusiaan perlu digalakkan,'' lanjutnya disambung bacaan Surat Alfatihah. Yang juga menarik, masih di tengah-tengah warga yang membawa poster tolak PLTN itu, Mbah Lim juga menyebut-nyebut nama Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudh.

Pengasuh Ponpes Maslakul Huda Desa Kajen Kecamatan Margoyoso, Pati itu diminta datang ke Balong. ''Gus Sahal, aku nang Balong. Nek selo, nusulo rene. Perlu berkahi. Apa artinya Rais Aam, kalau tidak untuk menangani masalah umat,'' kata Mbah Lim.

Sebelum menutup pembicaraan, Mbah Lim disuguhi minuman kelapa muda (degan), namun tak diminum. ''Luwih penting PLTN dibatalke tinimbang ngombe iki (degan),'' katanya. (H15-41). Suara Merdeka, 12 September 2007
»»  Japar Demak [Lanjut...]